Manusia dan Keindahan & Manusia dan Tanggung Jawab || ILMU BUDAYA DASAR ||
MAKALAH ILMU BUDAYA
DASAR
Manusia dan Keindahan & Manusia dan Tanggung
Jawab
Dosen
: Ibu Siti Pujianti S.I. KOM
Disusun
oleh :
Novia
Indah Puspita
1551834
Fakultas Psikologi
Jurusan Psikologi
Universitas Gunadarma
2018
KATA
PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak lupa pula
marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Ilmu Budaya Dasar
dengan lancar dan diberi kemudahan.
Dengan
segala kerendahan hati, saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih
kepada Ibu Siti Pujianti S.I. KOM selaku Dosen pengajar materi Ilmu Budaya
Dasar dikelas 1 PA03 karna telah membimbing dan memberikan ilmu kepada saya dan
teman-teman dikelas.
Penulis
menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karna itu
saya mengharpkan saran dan masukan guna perbaikan dimasa mendatang. Harapan
saya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Depok, 14 Oktober 2018
Novia Indah Puspita
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Manusia dan Keindahan
A.
Keindahan
B.
Renungan
C.
Keserasian
2.2 Manusia dan Tanggung Jawab
A.
Pengertian
Tanggung Jawab
B.
Macam-macam
Tanggung Jawab
C.
Pengabdian dan
Tanggung Jawab
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Manusia pada hakikatnya adalah
makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, dan merupakan makhluk paling sempurna
dimuka bumi ini. Manusia terlahir dengan memiliki akal dan pikiran. Setiap manusia juga terlahir dengan banyak sekali
keindahan. Baik itu keindahan dari dalam,
dari luar, maupun dari sekitarnya.
1.2
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui sejauh mana hubungan dan keterkaitan antara manusia dan keindahan,
sera manusia dan tanggung jawab. Mulai dari pengertian masing-masing dan
hubungan keduanya.
1.3
Manfaat
Manfaat kita mempelajari materi ini adalah agar kita lebih
paham secara mendalam tentang hubungan dan keterkaitan antara manusia dan
keindahan, serta manusia dan tanggung jawab.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Manusia dan Keindahan
A. Keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai,
cantik, elok, molek dan sebagainya. Keindahan identik dengan kebenaran, sesuatu
yang indah itu selalu mengandung kebenaran. Keindahan atau keelokan merupakan
sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan
pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang,
cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari
estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang
ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan
dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Dalam bahasa Latin, keindahan diterjemahkan dari
kata “bellum” Akar katanya adalah “benum” yang berarti
kebaikan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “beautiful”, Prancis “beao” sedangkan
Italy dan Spanyol ”beloo”. Kata benda Yunani klasik untuk
“keindahan ” adalah κάλλος, kallos, dan kata sifat untuk “indah”
itu καλός, kalos. Kata bahasa Yunani Koine untuk indah itu
ὡραῖος, hōraios, kata sifat etimologis berasal dari kata
ὥρα, hora, yang berarti “jam.” Dalam bahasa Yunani Koine, keindahan
demikian dikaitkan dengan “berada di jam (waktu) yang sepatutnya.”
Pengelompokan-pengelompokan
pengertian keindahan dilihat dari beberapa persepsi tentang keindahan berikut
ini :
- Keindahan adalah sesuatu yang rnendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat (Tolstoy).
- Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sarna lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau, beauty is an order of parts in their manual relations and in their relation to the whole (Baumgarten).
- Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral (Sulzer).
- Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan (Winehelmann).
- Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi, yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik (Shaftesbury).
Keindahan memiliki perbedaan, perbedaan keindahan menurut
luasnya :
- · Keindahan dalam arti luas.
- · Keindahan dalam arti luas menurut plotinus ilmu yang indah dan kebajikan yang indah.
- · Keindahan dalam arti estetis murni.
Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut bendabenda yang dapat -diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
B. Renungan
Renungan berasal dari kata renung, yang artinya diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah
hasil dari merenung. Pemikiran
kefilsafatan mempunyai 3 macam ciri, yaitu:
· Menyeluruh artinya pemikiran yang luas, bukan hanya ditinjau
dari sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin
mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu ilmu yang lain. Mendasar artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil
yang fundamental (ke luar gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpijak
bagi segenap bidang keilmuan. Spekulatif artinya hasil pemikiran yang di dapat dijadikan
dasar untuk pemikiran pemikiran selanjutnya.
Renungan
atau pemikiran yang berhubungan dengan keindahan atau penciptaan keindahan
didasarkan atas tiga macam teori. Dalam teori pengungkapan dikatakan oleh
Benedetto Croce, bahwa seni adalah pengungkapan kesan kesan. Dalam teori
metafisika, Plato mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang
tertinggi, sebagai realita Ilahi itu. Karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan
nimemis (tiruan) dari realita dunia. Sedangkan dalam teori
psikologik dinyatakan bahwa sadar dari seorang seniman.
C.
Keserasian
Keserasian
berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar rasi yang berarti cocok,
sesuai, atau benar. Kata cocok atau sesuai mengandung unsur pengertian
perpaduan, ukuran dan seimbang.
Keserasian
identik dengan keindahan, Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak
serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat,
bahwa keindahan ialah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu
hal.
Keserasian
merupakan perpaduan antar warna , bentuk dan ukuran. Atau keserasian merupakan
pertentangan antara nada-nada tingg –rendah, keras-lembut, panjang-pendek.
2.2
Manusia dan Tanggung Jawab
A. Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung
jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan
fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki
sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin
meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap
insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut
kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab
masing-masing individu berbeda.
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa
Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga
bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban
menanggung,memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab
dan menanggung akibatnya. Jadi tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak
disengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajibannya.
B. Macam-macam Taanggung Jawab
Manusia itu berjuang memenuhi
keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk
itu ia manghadapi manusia lain dalam masyarakat atau
menghadapi lingkungan alamo Dalam usahanya itu manusia juga
menuadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu
kekuasaan Tuhan. Dengan demikian
tanggung jawab itu dapat dibedakan
menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya.
Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung
jawab, yaitu :
a) Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri
menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri
dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah
kemanusiaan mengenai dirinya sendiri Menurut sifat dasamya
manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi.
Karena merupakan seorang pribadi maka manusia mempunyai
pendapat sendiri, perasaan sendiri angan-angan sendiri. Sebagai
perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia
berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak
luput dari kesalahan, kekeliruan,baik yang disengaja
maupun tidak.
Contoh : Stefani
membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-sebentar ia melihat
jalan, tetapi ia juga lengah, dan terperosok ke sebuah
lobang. kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya sendiri akan
kejadian itu.Ia harus beristirahat dirumah beberapa hari.
Konsekwensi tinggal di rumah beberapa hari merupakan tanggung jawab
sendiri akan kelengahannya.
b)
Tanggung Jawab Terhadap Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga
terdiri dari suami-istri. ayah-ibu dan anak-anak. dan
juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap
anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya.
Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung
jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan. pendidikan, dan
kehidupan.
Contoh : Seorang ibu telah dikaruniai oleh tiga
orang anak, kemudian oleh sesuatu sebab suaminya meninggal dunia karna ia tidak
mempunyai pekerjaan atau tidak bekerja pada saat suaminya masih hidup maka demi
rasa tanggung jawanya terhadap keluarga maka ia melacurkan diri.
Dari segi moral perilaku tersebut tidak bisa diterima karena melacurkan
diri termasuk perbuatan zina dan dilarang agama, tapi dari segi tnggung jawab
ia merupakan termasuk orang yang dipuji karena demi rasa
tanggung jawabnya terhadap keluarga ia rela berkorban
menjadi manusia yang hina dan dikutuk.
c) Tanggung
Jawab Terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan
manusia lain. sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial.
Karena membutuhkan manusia lain maka
ia hams berkomunikasi dengan manusia lain
tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini
merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai
mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar
dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut.
Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus
dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Contoh : Hanafi terlalu congkak
dan sombong, ia mengejek dan menghina pakaian pengantin adat
Minangkabau. Ia tidak mau memakai pakaian adat itu, bahkan penutup
kepala yang dikeramatkan pun semula ditolak. Tetapi setelah ada
ancaman dari pihak pengiring, terpaksa Hanafi mau memakainya juga.
Di dalam peralatan itu hampir-hampir pernikahan dibatalkan,karena
timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan
pihak kaum laki-laki. Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata
pakaian mempelai yang masih sekarang dilazimkan di negerinya,
yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya cara anak komedi Istambul.
Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah urung
sahaja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran
di dalam keluarga pihaknya sendiri akhimya diterimalah,
bahwa ia memakai smoking, yaitu jas hitam, celana hitam, dengan berompi
dan berdasi putih. Tetapi waktu hendak menutup
kepalanya, sudah berselisih pula. Dengan
kekerasan ia menolak pakaian dester
suluk,yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalipun
perempuan meminta supaya ia jangan menolak tanda
keminangkabauan yang satu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan
sudah selesai, bolehlah ia nanti memakai sekehendak hatinya pula. Hanafi tetap
menolak kehendak orang tua, ia tidak hendak menutup kepala,
karena lebih gila pula dari pada anak
komidi, bila memakai dester saluk dengan baju
smoking dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang sabamya dan
memukul-mukul dada di muka anak yang “terpelajar” itu, barulah Hanafi
menurut kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang
sudah “tergadai”. Untunglah ia menurutkan hal menutup kepala itu, karena
sekalian pengantar dan pasuinandan (pengiring bangsa perempuan) sudah
berkata bahwa mereka talc sudi mengiringkan “mempelai didong”. Akhimya
Hanafi tunduk pula dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, Meskipun
harus bersitegang dahulu. Sebagai pertanggungjawaban kecongkakan dan
kesombongannya itu, Hanafi harus menerima rasa antipati dari
masyarakat Minangkabau yang sangat ketat terhadap adat itu (salah asuhan).
d)
Tanggung Jawab Kepada Bangsa dan
Negara
Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga
negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku
manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara.
Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah,
maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Contoh : Dalam novel jalan tak ada
ujung karya Muchtar Lubis, Guru Isa yang tekenal sebagai guru yang baik, terpaksa
mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya. Perbuatan guru
isa ini harus pula dipertanggung jawabkan kepada pemerintah kalau perbuataan
itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.
e)
Tanggung Jawab Kepada Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab,
melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab
Iangsnng ternadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari
hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab sud melalui
berbagai macam agama Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera
diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih
juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan
perintah-perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang
seharusnya dilakukan manusia ternadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia perlu pengorbanan.
Contoh : Seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya, hal ini dilakukan agar ia dapat sepenuhnya mengabdikan din kepada Tuhan demi rasa tanggung jawabnya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada umumnya yang seharusnya meneruskan keturunannya yang sebetulnya juga merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai makhluk social.
Contoh : Seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya, hal ini dilakukan agar ia dapat sepenuhnya mengabdikan din kepada Tuhan demi rasa tanggung jawabnya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada umumnya yang seharusnya meneruskan keturunannya yang sebetulnya juga merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai makhluk social.
C. Pengabdian dan Pengorbanan
Wujud tanggung jawab
juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan
adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
A.
Pengabdian
Pengabdian adalah
perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai
perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu
ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu
pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang
bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan. hal itu
berarti mengabdi kepada keluarga. Lain halnya jika kita
membantu ternan dalam kesulitan, mungkin sampai berhari-hari itu
bukan pengabdian, tetapi hanya bantuan saja. Berikut ini adalah
macammacam bentuk pengabdian :
a)
Pengabdian Kepada Keluarga
Pada hakikatnya manusia
hidup berkeluarga. Hidup berkeluarga ini didasarkan cinta dan kasih sayang.
Kasih sayang ini mengandung pengertian pengabdian dan pengorbanan. Tidak ada
kasih sayang tanpa pengabdian. Bila ada kasih sayang tidak disertai pengabdian.
Berarti kasih sayang itu palsu atau semu. Pengabdian kepada keluarga ini dapat
berupa pengabdian kepada istri dan anak-anak, istri kepada suami dan
anak-anaknya, anak-anak kepada orang tuanya.
b)
Pengabdian Kepada Masyarakat
Manusia dalah anggota
masyarakat, ia tidak dapat hidup tanpa orang lain, karena tiap-tiap orang lain
saling membutuhkan. Bila seseorang yang hidup di masyarakat tidak mau
memesyarakatkan diri dan selalu mengasingkan diri, maka apabila mempunyai
kesulitan yang luar biasa, ia akan ditertawakan oleh masyarakat, cepat atau
lambat ia akan menyadai dan menyerah kepada masyarakat lingkungannya.
c)
Pengabdian Kepada Negara
Manusia pada hakikatnya
adalah bagian dari suatu bangsa atau warga negara suatu negara. Karena itu
seseorang wajib mencintai bangsa dan negaranya. Mencintai ini biasanya
diwujudkan dalam bentuk pengabdian. Tidak ada arti cinta tanpa pengabdian.
d)
Pengabdian Kepada Tuhan
Manusia tidak ada
sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan
manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri
sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kapada
Tuhan Yanag Maha Esa. Selain itu juga manusia harus menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
B.
Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari
kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti
pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat
kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih.
Pengorbanan dalam arti
pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita
membaca tau mendengarkan ceramah di masjid. Dari kisah para tokoh atau nabi,
manusia memperoleh tauladan yang baik, sebagaimana mestinya wajib berkorban
bagi orang yang mampu atau orang memiliki harta yang lebih.
Perbedaan antara
pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu
ada pengorbanan. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan
dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya.
Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa
ada transaksi, kapan saja diperlukan dan dilakukan.
Pengabdian
lebih banyak menunjuk kepada perbuatan, sedangkan pengorbanan lebih banyak
menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga,
biaya, dan waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, akan tetapi
pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia adalah makhluk
yang diciptakan oleh Allah dan dianugerahiNya akal, hati, fisik. Tanggung jawab
menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala
sesuatunya.Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya
yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggungjawab sangat diperlukan
dalam kehidupan manusia sehari – hari, baik tanggungjawab terhadap diri
sendiri, keluarga, lingkungan social, agama, budaya dan lain – lain. Antara
manusia dan tanggungjawab sangat erat hubungannya, dimana setelah kita
melaksanankan tanggungjawab kita akan mendapatkan hal – hal yang baik seperti ;
kita dapat menghargai waktu, mampu berbuat adil dan mencoba untuk berbuat adil,
timbulnya pengabdian dan pengorbanan terhadap Tuhan, keluarga, masyarakat,
bangsa , Negara dan lain – lain yang merupakan perwujudan dari tanggungjawab.
DAFTAR
PUSTAKA



Komentar
Posting Komentar